cintai lingkungan hidup di sekitar kita

welcome indonesian foretser's

Kamis, 04 Februari 2010

Diagram Profil Hutan Mangrove Langkat

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tumbuh-tumbuhan telah beradaptasi terhadap pengaruh fluktuasi arus pasang surut yang menyebabkan variasi genangan dan salinitas. Sebaliknya Bruguiera spp., yang juga termasuk tumbuhan mangrove mayor, umumnya hanya dijumpai pada arah daratan yang cenderung lebih kering, bahkan di belakang tanggul-tanggul buatan maupun alami. Spesies ini telah beradaptasi terhadap fluktuasi pasang surut yang lebih rendah, sehingga tanahnya memiliki kadar garam yang cenderung tinggi karena besarnya penguapan. Sturktur hutan umumnya pada semua Hutan Hujan Tropis klimaks sangat jelas dalam corak arsitekturnya, dan biasanya Stratifikasi hutan ini terdiri atas pohon, semak belukar dan herba. Biasanya pohon-pohon pada hutan tropis ini akan membentuk beberapa strata (Yang dikenal dengan istilah Lapisan, puncak, kanopi, dan strata yang sering digunakan), sedangkan hutan temperate tidak pernah memiliki lebih dari dua strata pohon tetapi kadang-kadang hanya satu strata pohon, tetapi pernyataan yang ada mempunyai bermacam-macam cara dalam menafsirkan dan hingga saat ini belum jelas arti yang sebenarnya (Nugroho dan Sumardi, 2004).

Ukuran petak sample ditentukan berdasarkan ukuran dan kerapatan tumbuh-tumbuhan yang dirisalah , serta dapat mewakili semua individu yang terdapat dalam lokasi penelitian. Pada umumnya bentuk sample yang digunakan adalah persegi panjang, persegi, dan lingkaran. Persegi panjang memiliki keliling per-unit yang paling besar dan mempunya bagian tepi yang lebih sehingga akan berpengaruh pada pemilihan pohon tepi apakah masuk ke dalam plot atau tidak. Bentuk lingkaran sering lebih efisies untuk digunankan dibandingkan dengan bentuk persegi atau persegi panjang. Sample lingkaran juga efektif untuk mengkarakteristikan kondisi sekitar, seperti sarang, tempat makan, atau tempat istirahat (Odum, 1993).

Suatu sketsa dari profil vegetasi sepanjang garis transek sangat berguna untuk penelitian satwa liar, terutama untuk penelitian burung dan primata yang menempati suatu habitat hutan. Komposisi dari suatu profil habitat sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan tentang hubungan antara derajat kelimpahan satwa liar dengan tipe habitatnya. Ukuran petak contoh untuk pemetaan diagram profil suatu habitat disesuaikan dengan peneliti dan kondisi lingkungan tempat dilakukan penelitian (Soemarwoto, 2004).

Ciri utama hutan hujan tropika adalah adanya lapisan-lapisan tajuk pohon (stratifikasi) yang terjadi karena perbedaan tinggi pohon/tumbuhan. Stratifikasi terbentuk melalui mekanisme persaingan dan pergantian tumbuhan yang merupakan bukti adanya dinamika masyarakat tumbuh-tumbuhan. Akibat persaingan jenis-jenis tertentu lebih berkuasa (dominan) daripada jenis yang lain. Pohon-pohon dominan dari lapisan teratas mengalahkan atau menguasai pohon-pohon yang lebih rendah (Onrizal, 2008).

Pada hutan mangrove yang masih memiliki kriteria yang sangat bagus, sangat rapat dan hampir tanpa celah, akan memiliki kerapatan tumbuhan yang ada didalamnya.. Tajuk-tajuknyabmerupakan suatu bentuk yang saling tertutup satu sama lain dan biasanya kokoh dan diikat dengan tumbuhan liana. Pohon-pohon yang berada pada lapisan ini umumnya adalah spesies yang tidak sampai pada ketinggian tertentu. Mempunyai variasi famili, tetapi ada kecenderung memiliki spesies lokal tunggal yang dominan (Sebenarnya spesies bervariasi dari tempat ke tempat) (Indriyanto, 2005).

Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat menggambarkan suatu arsitektur pohon dan dapat mengidentifikasi suatu individu dan jenis pohon masa lampau, pohon saat ini, dan pohon masa depan.

TINJAUAN PUSTAKA

Diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan plot, tergantung densitas pohon. Ditentukan posisi setiap pohon, digambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu, diukur tinggi, diameter setinggi dada, tinggi cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan (Resosoedarmo, dkk, 1985).

Kerapatan (atau kepadatan) suatu jenis adalah jumlah individu rata-rata per satuan luas. Kerapatan ditaksir dengan menghitung jumlah individu setiap jenis dalam kuadrat yang luasnya ditentukan, dan kemudian penghitungan ini diulang di tempat-tempat yang tersebar secara acak. Hasil-hasil dari semua kuadrat ini kemudian dijumlahkan dan kerapatan rata-rata dihitung untuk setiap jenis. Terpisah dari kesukaran praktis dalam penentuan di mana suatu tumbuhan tertentu (misalnya rumput-rumput yang berimpang) berakhir dan yang berikutnya mulai, metode ini tidak berat sebelah karena pengaruh pribadi, meskipun mempunyai kelemahan bahwa jumlah mutlak tidak selalu menunjukkan kepentingan nisbi dalam suatu komunitas (McNaughton dan Wolf, 1990).

Hutan Mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Kita dapat mengetahui pelapisanpelapisan vegetasi penyusun hutan mangrove dari diagram profil ini, dengan asumsi bahwa makin kompleks suatu profil makin beranekaragamlah jenis hewan dan tumbuhan yang berasosiasi didalamnya (Resosoedarmo, dkk, 1985).

Formasi hutan mangrove terdiri dari empat genus utama, yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, dan Bruguier. Hutan mangrove alami membentuk zonasi tertentu. Bagian paling luar didominasi Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora, bagian tengah Bruguiera gymnorrhiza, bagian ketiga Xylocarpus, dan Heritieria, bagian dalam Bruguiera cylindrica, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Lumnitzera, sedangkan bagian transisi didominasi Cerbera manghas, Avicennia spp., Sonneratia spp., dan Rhizophora spp., baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, hamper selalu dijumpai dalam plot penelitian. Hal ini wajar mengingat ketiganya merupakan tumbuhan mangrove mayor yang selalu berada di garis terdepan berhadapan dengan garis pantai atau muara sungai (Chapman, 1992).

Formasi hutan mangrove terdiri dari empat genus utama, yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, dan Bruguiera. Hutan mangrove alami membentuk zonasi tertentu. Bagian paling luar didominasi Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora, bagian tengah Bruguiera gymnorrhiza, bagian ketiga Xylocarpus, dan Heritieria, bagian dalam Bruguiera cylindrica, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Lumnitzera, sedangkan bagian transisi didominasi Cerbera manghas. Pada perbatasan hutan mangrove dengan rawa air tawar tumbuh Nypa fruticans. Pada masa kini pola zonasi tersebut jarang ditemukan karena tingginya laju konversi habitat mangrove menjadi tambak, penebangan hutan, sedimentasi/reklamasi, dan pencemaran lingkungan (Odum, 1993).

Komposisi dan struktur biota pada saat ini. Spesies atau komunitas tertentu yang interaksinya unik dalam ekosistem dapat digunakan sebagai bioindikator untuk mengetahui kualitas lingkungan, mengidentifikasi permasalahan kawasan, dan memberikan peringatan awal berbagai perubahan yang kemungkinan terjadi pada masa depan. Pengetahuan tentang pola pertumbuhan berbagai vegetasi hutan dapat menjadi dasar untuk memprediksi kemungkinan perubahan lingkungan yang akan terjadi dimasa depan (Aumeeruddy, 1994).

Excoecaria agallocha, Aegiceras corniculatum, dan Xylocarpus spp. merupakan tumbuhan mangrove minor, umumnya tumbuh pada arah daratan, jauh dari fluktuasi genangan pasang-surut, namun dalam penelitian ini tumbuh-tumbuhan tersebut dapat dijumpai pada barisan terdepan, berbatasan langsung dengan tepi pantai atau muara sungai. Hal ini merupakan akibat terjadinya pengeringan area mangrove, baik secara sengaja maupun secara alami. Pengeringan area mangrove secara buatan umumnya terkait dengan pembuatan tambak atau sawah. (Soemarwoto, 2004).

Kita dapat mengetahui pelapisanpelapisan vegetasi penyusun hutan mangrove dari diagram profil ini, dengan asumsi bahwa makin kompleks suatu profil makin beranekaragamlah jenis hewan dan tumbuhan yang berasosiasi di dalamnya. Hutan mangrove ini mempunyai profil diagram yang khas baik secara vertikal maupun horizontalnya. Namun demikian gambaran profil diagram hutan mangrove ini hingga kini belum pernah divisualisasikan secara nyata disuatu daerah tertentu (Indriyanto, 2005).

Diagram profil hutan mangrove disuatu kawasan mangrove yang murni, menunjukkan kekompleksan secara vertikal. Kekompleksan ini tidak hanya dibentuk oleh lapisan-lapisan tajuk yang bervariasi dari jenis-jenis mangrove penyusunnya tetapi juga oleh sistem perakaran dari jenis-jenis mangrove tersebut, terutama marga Rhizophora. Diantara lima lokasi terpilih, pelapisan vegetasi mangrove (lapisan-lapisan tajuk bawah, tengah dan atas) lebih jelas terlihat di hutan mangrove Simacan dan Lempuyang, sedangkan pada ketiga lokasi pelapisannya lebih banyak terbentuk oleh sistem perakarannya (Resosoedarmo, dkk, 1985).

Kematian dari suatu pohon individu atau suatu kelompok menghasilkan suatu gap di dalam kanopi hutan yang memungkinkan pohon lain tumbuh. Ini pada gilirannya menjangkau kedewasaan dan barangkali senescence; kemudian mati. Kanopi Hutan, secara terus menerus mengganti pohon tumbuh dan mati. (Soemarwoto, 2004).

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Adapun praktikum Teknik Pembuatan Diagram Profil Arsitektur Pohon ini dilaksanakan pada hari Sabtu 2 Mei 2009 di Desa Kebun Ubi Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang dipergunakan pada praktikum Teknik Pembuatan Diagram Profil Arsitektur Pohon ini yaitu:

  1. Komunitas hutan alam sebagai objek percobaan
  2. Kertas millimeter untuk menggambar diagram
  3. Tally sheet untuk mencatat hasil yang diperoleh

Adapun alat yang dipergunakan pada praktikum Pengukuran Biomassa Tumbuhan Bawah ini yaitu:

  1. Kompas sebagai alat penunjuk arah
  2. Meteran sebagai alat untuk mengukur daerah yang akan digambar
  3. Phi-band sebagai alat untuk mengukur diameter pohon
  4. Walking stick sebagai alat untuk mengukur tinggi pohon
  5. Tali rafia, untuk membuat batas petak
  6. Golok atau parang untuk merintis jalur
  7. Galah sebagai alat bantu walking stick
  8. Alat tulis sebagai alat untuk mencatat data

Prosedur

Adapun prosedur praktikum Teknik Pembuatan Diagram Profil Arsitektur Pohon yaitu sebagai berikut:

1. Ditentukan secara purposive sampling komunitas hutan berdasarkan keterwakilan.

2. Dibuat petak contoh berbentuk jalur dengan arah tegak lurus kontur (gradien perubahan tempat tumbuh) dengan ukuran lebar 10 m dan panjang 60 m, ukuran petak contoh dapat berubah tergantung pada kondisi hutan.

3. Dianggap lebar jalur (10 m) sebagai sumbu Y dan panjang jalur (60 m) sebagai sumbu X.

4. Diberi nomor semua pohon yang berdiameter ≥ 7 cm atau tinggi total ≥ 4 m yang ada di petak contoh tersebut.

5. Dicatat nama jenis pohon dan ukur posisi masing-masing pohon terhadap titik koordinat X dan Y.

6. Diukur diameter batang pohon setinggi dada, tinggi total, dan tinggi bebas cabang, serta gambar bentuk percabangan dan bentuk tajuk.

7. Diukur luas proyeksi (penutupan) tajuk terhadap permukaan tanah paling tidak dari dua arah pengukuran, yaitu arah tajuk terlebar dan tersempit.

8. Digambar bentuk profil vertical dan horizontal (penutupan tajuk) pada kertas millimeter dengan skala yang memadai.

9. Ditentukan jenis dan jumlah pohon yang termasuk lapisan A, B dan C.

10. Ditentukan jenis dan jumlah pohon yang termasuk pohon masa depan, pohon masa kini dan pohon masa lampau.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Terlampir

Pembahasan

Data diagram profil pada ekosistem mangrove yang masih bagus menunjukkan kelimpahan jenisnya lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem mangrove yang sudah rusak. Hal ini berarti keanekaragaman hayati pada ekosistem mangrove yang masih bagus lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem mangrove yang sudah rusak.

Penentuan diagram profil suatu tegakan, baik dihutan alam, maupun hutan tanaman, ukuran petak sample ditentukan berdasarkan ukuran dan kerapatan tumbuh-tumbuhan yang dirisalah , serta dapat mewakili semua individu yang terdapat dalam lokasi penelitian. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Odum, 1993), yakni pada umumnya bentuk sample yang digunakan adalah persegi panjang, persegi, dan lingkaran. Persegi panjang memiliki keliling per-unit yang paling besar dan mempunya bagian tepi yang lebih sehingga akan berpengaruh pada pemilihan pohon tepi apakah masuk ke dalam plot atau tidak. Bentuk lingkaran sering lebih efisies untuk digunankan dibandingkan dengan bentuk persegi atau persegi panjang.

Terlihat banyak perbedaan ukuran tajuk yang satu dengan tajuk yang lainnya. Hal ini dikarenakan oleh adanya factor pembantu dalam kehidupan suatu tanaman yang ada dihutan mengrove. Cara menentukan diagram profil yakni ditentukan posisi setiap pohon, digambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu, diukur tinggi, diameter setinggi dada, tinggi cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Keanekaragaman ekosistem mangrove yang masih bagus lebih tinggi daripada ekosistem mangrove yang sudah rusak

2. Terdapat 3 sub petak yang kosong pada ekosistem mangrove yang sudah rusak

3. Jumlah individu tertinggi terdapat pada sub petak ke lima dengan jumlah 33 individu

4. Pada ekosistem mangrove yang rusak hanya didominasi oleh satu jenis saja

5. Persegi panjang memiliki keliling per-unit yang paling besar dan mempunya bagian tepi yang lebih sehingga akan berpengaruh pada pemilihan pohon tepi apakah masuk ke dalam plot atau tidak.

6. Nilai Dbh pada hutan mangrove bagus maupun hutan mangrove rusak, nilainya hampir sama.

Saran

Diharapkan kepada para praktikan agar lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan dan penganalisisan suatu data, sehingga diperoleh data yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Chapman, V.J. 1992. Wet coastal formations of Indo Malesia and Papua- New Guinea. In Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal Ecosystems. Amsterdam: Elsevier.

Indriyanto, 2005. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.

Nugroho, L.H., dan Sumardi, I. 2004. Biologi Dasar. Penebar Swadaya. Jakarta.

Odum, E. HLM. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingan dari buku Fundamentals of Ecology. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Onrizal. 2008. Petunjuk Praktikum Ekologi Hutan. Departemen Kehutanan. Fakultas Pertanian USU. Medan.

Resosoedarmo, S., Kartawinata, K. dan Soegiarto, A. 1985. Pengantar Ekologi. Fakultas Pasca Sarjana IKIP. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Jakarta.

Soemarwoto, O. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Tidak ada komentar: