cintai lingkungan hidup di sekitar kita

welcome indonesian foretser's

Rabu, 23 Mei 2012

coba lihat foto slide penelitianku
klik disini

Selasa, 20 September 2011

PENGISIAN CV PRAKTIKUM GIS MANAJEMEN HUTAN

untuk praktikan Praktikum GIS di Kehutanan USU tahun 2011,
isilah formulir di bawah ini

FORM CV GIS

terima kasih atas partisipasinya

tim asisten

PENGENALAN GEOGRAFIK INFORMASI SISTEM (GIS) DENGAN ARCVIEW

PENGENALAN GIS
Oleh : Harry Kurniawan, S.Hut.

GIS singkatan dari Geographic Information System atau Sistem informasi Geografis. GIS merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengelola (input, manajemen, proses, dan output) data spasial atau data yang bereferensi geografis (memilki koordinat lokasi bumi). Setiap data yang merujuk lokasi di permukaan bumi dapat disebut sebagai data spasial bereferensi geografis. Misalnya data kepadatan penduduk suatu daerah, data jaringan jalan suatu kota, penyebaran pakan lebah, data distribusi lokasi pengambilan sampel, dan sebagainya.
Data GIS dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu data grafis dan data atribut atau tabular. Data grafis adalah data yang menggambarkan bentuk atau kenampakan obek dipermukaan bumi. Sedangkan data Atribut (tabular) adalah data diskriptif yang menyatakan nilai dari data grafis tersebut (menyimpan informasi tentang nilai atau besaran dari data grafis)

Gambar Data Grafis (titik, line, dan polygon)


Gambar Data Atribut (Tabular)

Struktur Data GIS ada 2 macam, yaitu vektor dan raster. Pada struktur data vektor, posisi objek dicatat pada sistem koordinat (peta tematik, berisi data point, line, dan polygon), Di sisi lain, objek pada struktur data raster disimpan pada grid 2 dimensi yaitu baris dan kolom (Citra Satelit, berisi data pixel-pixel atau grid-grid)



PROJECTION (Proyeksi)

Proyeksi adalah suatu cara dalam usaha menyajikan dari suatu bentuk yang mempunyai dimensi tertentu ke dimensi lainnya. Dalam hal ini adalah dari bentuk matematis bumi (Elipsoid atau Elip 3 dimensi) ke bidang 2 dimensi berupa bidang datar (kertas), dengan kata lain mengubah atau mentransfer bentuk bulat menjadi bentuk datar, seperti mengupas kulit jeruk dan menyambungkannya kembali ke bentuk datar.

Bentuk bumi yg selama ini kita liat adalah sebuah model bumi yg dibikin oleh manusia, kadang ada berbentuk bulat kadang berbentuk elips. Tp sebenarnya bukan seperti itu bentuk bumi, bentuknya adalah tidak beraturan. Dan biar lebih mudah ngegambarnya, akhirnya lebih umum menjadi bulat. Dan bentuk bulat ini di bikin datar oleh peta. Namanya juga peta, kan gambaran permukaan bumi dalam bidang datar

Oleh karena permukaan bumi ini tidak rata alias melengkung-lengkung tidak beraturan, akan tetapi peta membutuhkan suatu gambaran dalam bidang datar, maka diperlukan pengkonversian dari bidang lengkung bumi sebenarnya ke bidang datar agar tidak terjadi distorsi permukaan bumi

Berikut ukuran bumi dalam angka
Ellipticity : 0.003 352 9
Mean radius : 6,372.797 km
Equatorial radius : 6,378.137 km
Polar radius : 6,356.752 km
Aspect Ratio : 0.996 647 1

Pada prinsipnya arti proyeksi peta adalah usaha mengubah bentuk bidang lengkung ke bentuk bidang datar, dengan persyaratan bentuk yang diubah itu harus tetap, luas permukaan yang diubah harus tetap dan jarak antara satu titik dengan titik yang lain di atas permukaan yang diubah harus tetap.

Beberapa jenis proyeksi yang umum adalah silinder/tabung (cylindrical), kerucut (conical), bidang datar (zenithal) dan gubahan (arbitrarry).

Jenis proyeksi yang sering kita jumpai sehari-hari adalah proyeksi gubahan, yaitu proyeksi yang diperoleh melalui perhitungan. Jenis proyeksi yang sering di gunakan di indonesia adalah WGS-84 (World Geodetic System) dan UTM (Universal Transverse Mercator).

Dalam Arcview yang sering digunakan di Indonesia adalah proyeksi Geografik dan proyeksi UTM. Proyeksi Geografik memiliki nilai koordinat berbentuk derjat dan berlaku untuk dunia, sedangkan proyeksi UTM memiliki nilai koordinat berbentuk decimal dan memiliki zone yang berbeda untuk masing-masing wilayah, sebahagian besar wilayah Sumatera Utara pada system UTM berada pada zone 47 N.

PENGENALAN ARCVIEW 3.3

Project ArcView merupakan kumpulan dari dokumen-dokumen yang saling berhubungan dan bekerja secara bersama-sama pada satu sesion. Suatu project mengorganisasi dan menyimpan status dokumennya. Suatu project ArcView disimpan dalam file yang disebut project file, yang berformat ASCII dan mempunyai ekstension apr, misal deliserdang.apr. ArcView hanya dapat menampilkan satu project dalam satu sesion.
Setiap project terdiri dari beberapa dokumen yang meliputi View, Table, Chart, Layout dan Script.

View berfungsi menampilkan gambar peta yang dapat berisi beberapa layer informasi spasial, seperti administrasi, jalan, sungai, kota penggunaan tanah. Setiap layer tersebut dikenal dengan theme (tema). Jadi, view merupakan kumpulan detil geografi yang logis dengan karakteristik yang sama. Kita dapat mempunyai suatu view yang bernama Landuse yang mempunyai 4 theme yaitu jalan, sungai, pantai dan penggunaan tanah. View tampil pada satu windows tersendiri.

Table berfungsi untuk melakukan organisasi data tabular. Table menyimpan informasi yang menjelaskan setiap feature yang ada pada view, karena keduanya saling berhubungan (link). Dengan table kita dapat melakukan editing terhadap datanya.

Chart merupakan dokumen ArcView yang dapat menampilkan data tabular yang ada pada table ke dalam bentuk grafik, seperti grafik batang, area, lingkaran, garis, kolom dan sebaran titik. Dengan chart kita dapat dengan cepat melakukan organisasi data tabular ke dalam bentuk grafik.

Layout menyediakan teknik-teknik untuk menggabungkan isi dokumen-dokumen pada view, table dan chart serta komponen-komponen peta lainnya seperti arah utara, sekala, legenda dan teks judul, guna menciptakan peta yang siap untuk dicetak. Sebagai contoh, suatu layout dapat memiliki dua view, satu chart, satu tabel, arah utara, sekala, legenda dan judul.

Kita dapat menulis script (bahasa program) dengan aplikasi pengembangan bahasa yang disebut avenue, untuk membuat interface dan perintah otomasi sesuai dengan kebutuhan dan tujuan. Dalam hal ini kita membuat suatu aplikasi untuk tujuan tertentu.














Gambar Keterangan pada Tampilan ArcView

- ArcView Window merupakan tempat dimana semua komponen dan dokumen disimpan, dan melakukan operasinya.
-
- Project Window memuat semua dokumen yang dapat dikelola dan diproses.

- Document Window merupakan tempat untuk menampilkan data-data berdasarkan dokumennya. Document Window untuk View berfungsi menampilkan gambar peta. Kita dapat menampilkan beberapa document window secara bersamaam.

- Menu Bar memuat menu-menu pulldown dari ArcView. Untuk mengakses menu tersebut dapat digunakan mouse atau dengan mengetik huruf yang sesuai pada keyboard. Menu bar akan berubah jika document window yang aktif berbeda, artinya setiap dokumen mempunyai perintah menu bar tersendiri.

- Button Bar berisi berbagai tombol untuk mengakses perintah yang sesuai. Sama seperti menu bar, button bar akan berubah sesuai dengan document window yang aktif.

- Tool Bar berisi bermacam fungsi yang dapat dijalankan. Jika mengklik salah satu fungsi, maka cursor akan berubah sesuai dengan fungsinya. Jenis tool bar juga akan berubah sesuai dengan document window yang aktif.

- Status Bar berfungsi untuk :
Keterangan tentang operasi yang dapat dilakukan
Gambaran singkat tentang menu yang dipilih
Gambaran singkat tentang button dan tool bar ketika cursor berada pada iconnya.
Menampilkan hasil pengukuran panjang dan luas

- Scale Bar menampilkan perbandingan skala yang sesuai dengan luasan peta yang ditampilkan. Skala ini akan muncul jika peta yang ditampilkan sudah memiliki unit peta.
- Position merupakan petunjuk dari koordinat lokasi pada posisi cursor berada.
CARA MEMBUKA ARCVIEW 3.3

Prosedurnya :
1. Klik icon ArcView pada desktop atau pilih start – all program – ESRI –ArcView GIS 3.3 - ArcView GIS 3.3, maka akan terbuka jendela baru seperti gambar di bawah ini



2. Kemudian pilih cancel pada jendela “welcome to ArcView GIS, maka akan muncul jendela seperti gambar berikut



3. Untuk membuka peta atau yang sering disebut theme, langsung saja klik NEW pada Untitled, lalu klik tanda (Add Theme) pada Button Bar dan di pilih derektori dimana peta di simpan. Berikut hasil peta yang sudah dibuka



CARA MEMOTONG AREAL SESUAI DAERAH PENELITIAN SAJA

Job : memotong sungai sesuai daerah penelitian yaitu kecamatan tiga juhar
Bahan : peta sungai Deliserdang dan peta Admser dari bang Remon
Prosedurnya :


1. di buka jendela ArcView - cancel pada welcome kemudian klik (Add Theme) pada Button Bar dan di pilih derektori dimana peta Admser i bang Remon di simpan lalu OK. Setelah peta admser terbuka kemudian klik lagi add theme untuk membuka peta sungai deliserdang







2. sebelum memotong sungainya, kita harus terlebih dahulu memotong kecamatan tiga juhar dari peta admser caranya adalah klik kiri sekali admser pada view 1 – lalu klik (open theme table) pada button bar sampai muncul atribut of admser – lalu klik (query builder) – lalu double klik [N_Kec] pada field – lalu single klik tanda = (sama dengan) – kemudian doble klik “STM Hulu” pada value – lalu klik New Set





3. maka akan terdapat satu baris dari atribut admser yang berwarna kuning, baris itu adalah data tentang kecamatan stm hulu, setelah itu klik window – lalu pilih view 1 – kemudian pilih theme dan pilih convert to shapefile – kemudian disimpan di folder deliserdang pada folder dari Remon dan diganti nama pada File Name dengan kecamatan stm hulu – lalu ok – bila ada pertanyaan yang muncul klik yes – centang peta kec stm hulu yang baru kita buat – kemudian klik pete admser satu kali lalu pilih edit – lalu delete theme – lalu bila muncul pertanyaan klik yess to all
4. sekarang peta yang ada pada view 1 hanya 2 peta yaitu peta sungai dan peta kec stm hulu
5. posisi peta sungai harus di atas, peta dapat digeser dengan klik tahan pada salah satu peta kemudian digeser ke atas dan ke bawah





6. kemudian untuk memotong sungainya pilih view – lalu geoprocessing wizard – pilih clip - next – pada specifi the output file disimpan peta pada folder deliserdang dari file remon dengan nama sungai stm hulu – ok – finish – klik sungai stm hulu yang baru selesai diproses – klik sekali peta sungai deliserdang kemudian edit lalu delete theme kemudian yes to all – dan job pun selesai dengan sungai pada kecamatan stm hulu saja.

Nb : untuk membesarkan view caranya double klik pada garis biru view 1, untuk membesarkan peta caranya klik satu kali pada peta sungai stm hulu kemudian klik (zoom to active theme.







HASIL AKHIR

TUGAS 1

Job : memotong peta kawasan 44 deliserdang, peta jalan, peta tghk, dan peta pemukiman hanya pada wilayah stm hulu saja
Bahan : peta kec stm hulu, peta kawsan 44 deliserdang, peta jalan, peta tghk, dan peta pemukiman
Prosedur :
1. setelah di buat peta sungai pada kecamatan stm hulu saja, maka dapat dibuat peta kawasan hutan, peta jalan, peta tghk, peta , dan peta pemukiman
2. lakukan langkah kerja sesuai dengan prosedur di atas
3. mungkin akan terdapat kesulitan pada tahap geoprocessing
4. dalam pembuatan peta ini diperlukan logika untuk menyelesaikannya
5. hasil akhir akan berupa peta overley yaitu peta kec stm hulu, peta kawasan 44 stm hulu, peta jalan stm hulu, peta tghk stm hulu, dan peta pemukiman stm hulu
6. HASILNYA SEPERTI PETA-PETA BERIKUT

Peta Jalan di STM hulu


Peta Kawasan 44 di STM hulu


Peta TGHK di STM hulu


Peta Pemukiman di STM hulu


SELAMAT MENCOBA YAH….




















MERUBAH WARNA PADA TAMPILAN VIEW


Job : mengubah warna tamipilan peta berbagai jenis peta
Bahan : peta kawasan 44 kec STM Hulu
Prosedur :
1. Di buka peta kawsan 44
2. Doble klik peta TGHK ( ) pada view
3. Pilih unique value pada legend type






4. Dipilih “ket” pada values field, kemudian klik apply














5. Maka warna peta akan berubah sesuai keterangan yang ada pada peta



TUGAS 2

Job : rubahlah warna tampilan peta tghk berdasarkan “nama” pada values field nya
Bahan : peta TGHK kec STM Hulu
Berikut hasil perubahan warnanya


Nb : warna yang telah dirubah tersebut dapat di edit kembali dengan warna sesuai keinginan kita, caranya dengan mendouble klik pada masing-masing keterangan misalnya , lalu dipilih pada color palette dan di pilih warnanya.

MENGOVERLEYKAN BEBERAPA PETA
Job : menggabungkan beberapa peta menjadi satu dalam satu tampilan (view)
Bahan : peta kec stm hulu, peta jalan, peta sungai , dan peta TGHK stm hulu
Prosedur :
1. Di buka ke empat peta tersebut
2. Berikut posisi peta tersebut : peta sungai, jalan, tghk, dan kec stm hulu (dari atas ke bawah)

3. Di rubah masing-masing warna peta dengan warna yang sesuai, dengan cara mendouble klik simbolnya dan pilih warnanya pada

TUGAS 3
Job dan Bahan seperti di atas yaitu ke empat peta
Fokusnya adalah memberikan tampilan yang lebih menarik dan mudah dipahami dengan merubah warnanya untuk masing-masing peta



LAYOUT

Job : membnuat layout (hasil akhir dari pengolahan peta) untuk peta TGHK STM Hulu
Bahan : sama seperti bahan di atas yaitu peta kec stm hulu, peta jalan, peta sungai , dan peta TGHK stm hulu
Dalam pembuatan Layout di ArcView terdapat 2 cara yaitu otomatis dan manual, namun dalam hasilnya lebih bagus yang manual sebab dapat di edit sesuai imajinasi seseorang. Sebelum melakukan Layout diharuskan sudah membuat tampilan di view yang bagus dan mudah dimengerti.
Prosedur layout otomatis
1. Setelah keempat peta sudah ditampilkan dengan sempurna baik kombinasi warna dan bentuknya maka pilih menu view – layout – landscap
2. Di ganti tulisan view menjadi judul peta, caranya dengan mendouble klik pada tulisan view, kemudian diganti dengan judul petanya “peta tghk kecamatan stm hulu” setelah di edit judul tersebut dapat digeser dengan tanda panah yang ada di monitor PC/Laptop.




Prosedur Layout Manual
1. Sebelum membuka jendela layout diharuskan tampilan view sudah sesuai dengan peta semestinya. Seperti warna jalan merah, warna sungai biru, warna batas kecamatan hitam, dan kombinasi warna yang proporsional.
2. Cara membuat warna jalan merah yaitu double klik ( ) maka akan muncul gambar sbb:

3. Lalu double klik tanda pada symbol, maka akan muncul gambar sebagai berikut :

4. Lalu pilih , maka akan muncul gambar sbb:

5. Untuk garis pilih foreground pada color, dan pilih warna merah untuk jalan, lalu apply
6. Begitu juga dengan sungai dirubah menjaadi warna biru
7. Untuk kecamatan STM Hulu dibuat menjadi warna putih, maka warna peta akan tampil sbb:

8. Kemudian pilih windows pada menu bar dan pilih untiled



9. Maka akan muncul jendela sebagai berikut, kemudian pilih layout dan klik new



10. Maka akan muncul gambar sebagai berikut

11. Lalu di pilih layout dan page setup dan di zoom dengan

12. Pilih page size a4, units centimeter, orientation landskap, dan output orientationnya high


13. Lalau diklik kiri tahan pada symbol



14. Kemudian klik dari kiri atas ke kanan bawah secara diagonal

15. Kemudian pilih view 1 pada view , lalu pilih user specific sale dan tentukan skalanya yaitu 1 : 50000, dan ok




16. Maka hasilnya sbb:

17. Setelah itu klik gratikular untuk membuat lintang dan bujurnya

18. Lalu next


19. Kemudian di isi sesuai data di bawah ini

20. Kemudian next
21. Lalu di isi data seperti di bawah ini dan klik next

22. Lalu centang align around the graticular

23. Klik preview dan klik finish

24. Berikut hasilnya

25. Lalu klik
26. Dan klik bebas di ujung kanan atas


27. Dan ketikkan seperti di bawah dan ok

28. Untuk merubah jenis dan ukuran font klik windows dan show symbol…..

29. Kemudian tentukan ukurannya

30. Lalu klik tanda arrow
31. Setelah itu pilih jenis tanda arah nya dan ok

32. Kemudian klik tanda panah untuk menggeser dan memperbesar ukuran

33. Berikut hasilnya

34. Untuk membuat skala klik tanda scale
35. Lalu muncul gambar sepert di bawah ini dan klik view 1 isikan data sesuai di bawah ini dan ok


36. Berikut hasilnya

37. Lalu untuk membuat tulisan “keterangan” klik
38. Isikan data seperti di bawah

39. Lalu pilih windows view 1

40. Klik sekali pada kolom jalan





41. Pilih theme dan propertis


42. Isikan tulisan jalan

43. Kemudian klik sekali kolom sungai

44. Isikan nama sungai stm hulu






45. Klik sekali pada kolom tghk dan isikan nama tghk


46. Klik kolom kec stm hulu lalu pilih theme dan hide legend







47. Pilih windows layout 1 dan save projek as dan simpan di folder deliserdang dari remon dengan nama tghk tutor layout









48. Pilih windows dan klik tghk tutor layout dan klik view new



49. Kemudian add theme masukkan peta admser




50. Doble klik peta admser dang anti warnanya menjadi putih

51. Kemudian masukkan peta kec stm hulu
52. Lalu pilih window layout 1






53. Berikut hasilnya

54. Lalu pilih kemudian pilih view 2 dan ok

55. Pilih view 2 lagi dan ok



56. Isikan data seperti di bawah ini

57. Isikan juga data di bawah ini

58. Isikan data seperti di bawah ini

59. Lalu klik lambing dan beri judul


60. Hasil akhir layout



THANKS………..!!!!!!!!!!!!

NB : untuk tutorial yang lebih jelas silahkan hubungi admin.

Minggu, 01 Agustus 2010

lirik lagu keong racun sinta dan jojo

LIRIK LAGU KEONG RACUN JOJO DAN SINTA

KEONG RACUN

Dasar kau keong racun
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung

Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy

Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok

Mentang-mentang kokay
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan.



Kamis, 04 Februari 2010

Diagram Profil Hutan Mangrove Langkat

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tumbuh-tumbuhan telah beradaptasi terhadap pengaruh fluktuasi arus pasang surut yang menyebabkan variasi genangan dan salinitas. Sebaliknya Bruguiera spp., yang juga termasuk tumbuhan mangrove mayor, umumnya hanya dijumpai pada arah daratan yang cenderung lebih kering, bahkan di belakang tanggul-tanggul buatan maupun alami. Spesies ini telah beradaptasi terhadap fluktuasi pasang surut yang lebih rendah, sehingga tanahnya memiliki kadar garam yang cenderung tinggi karena besarnya penguapan. Sturktur hutan umumnya pada semua Hutan Hujan Tropis klimaks sangat jelas dalam corak arsitekturnya, dan biasanya Stratifikasi hutan ini terdiri atas pohon, semak belukar dan herba. Biasanya pohon-pohon pada hutan tropis ini akan membentuk beberapa strata (Yang dikenal dengan istilah Lapisan, puncak, kanopi, dan strata yang sering digunakan), sedangkan hutan temperate tidak pernah memiliki lebih dari dua strata pohon tetapi kadang-kadang hanya satu strata pohon, tetapi pernyataan yang ada mempunyai bermacam-macam cara dalam menafsirkan dan hingga saat ini belum jelas arti yang sebenarnya (Nugroho dan Sumardi, 2004).

Ukuran petak sample ditentukan berdasarkan ukuran dan kerapatan tumbuh-tumbuhan yang dirisalah , serta dapat mewakili semua individu yang terdapat dalam lokasi penelitian. Pada umumnya bentuk sample yang digunakan adalah persegi panjang, persegi, dan lingkaran. Persegi panjang memiliki keliling per-unit yang paling besar dan mempunya bagian tepi yang lebih sehingga akan berpengaruh pada pemilihan pohon tepi apakah masuk ke dalam plot atau tidak. Bentuk lingkaran sering lebih efisies untuk digunankan dibandingkan dengan bentuk persegi atau persegi panjang. Sample lingkaran juga efektif untuk mengkarakteristikan kondisi sekitar, seperti sarang, tempat makan, atau tempat istirahat (Odum, 1993).

Suatu sketsa dari profil vegetasi sepanjang garis transek sangat berguna untuk penelitian satwa liar, terutama untuk penelitian burung dan primata yang menempati suatu habitat hutan. Komposisi dari suatu profil habitat sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan tentang hubungan antara derajat kelimpahan satwa liar dengan tipe habitatnya. Ukuran petak contoh untuk pemetaan diagram profil suatu habitat disesuaikan dengan peneliti dan kondisi lingkungan tempat dilakukan penelitian (Soemarwoto, 2004).

Ciri utama hutan hujan tropika adalah adanya lapisan-lapisan tajuk pohon (stratifikasi) yang terjadi karena perbedaan tinggi pohon/tumbuhan. Stratifikasi terbentuk melalui mekanisme persaingan dan pergantian tumbuhan yang merupakan bukti adanya dinamika masyarakat tumbuh-tumbuhan. Akibat persaingan jenis-jenis tertentu lebih berkuasa (dominan) daripada jenis yang lain. Pohon-pohon dominan dari lapisan teratas mengalahkan atau menguasai pohon-pohon yang lebih rendah (Onrizal, 2008).

Pada hutan mangrove yang masih memiliki kriteria yang sangat bagus, sangat rapat dan hampir tanpa celah, akan memiliki kerapatan tumbuhan yang ada didalamnya.. Tajuk-tajuknyabmerupakan suatu bentuk yang saling tertutup satu sama lain dan biasanya kokoh dan diikat dengan tumbuhan liana. Pohon-pohon yang berada pada lapisan ini umumnya adalah spesies yang tidak sampai pada ketinggian tertentu. Mempunyai variasi famili, tetapi ada kecenderung memiliki spesies lokal tunggal yang dominan (Sebenarnya spesies bervariasi dari tempat ke tempat) (Indriyanto, 2005).

Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat menggambarkan suatu arsitektur pohon dan dapat mengidentifikasi suatu individu dan jenis pohon masa lampau, pohon saat ini, dan pohon masa depan.

TINJAUAN PUSTAKA

Diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan plot, tergantung densitas pohon. Ditentukan posisi setiap pohon, digambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu, diukur tinggi, diameter setinggi dada, tinggi cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan (Resosoedarmo, dkk, 1985).

Kerapatan (atau kepadatan) suatu jenis adalah jumlah individu rata-rata per satuan luas. Kerapatan ditaksir dengan menghitung jumlah individu setiap jenis dalam kuadrat yang luasnya ditentukan, dan kemudian penghitungan ini diulang di tempat-tempat yang tersebar secara acak. Hasil-hasil dari semua kuadrat ini kemudian dijumlahkan dan kerapatan rata-rata dihitung untuk setiap jenis. Terpisah dari kesukaran praktis dalam penentuan di mana suatu tumbuhan tertentu (misalnya rumput-rumput yang berimpang) berakhir dan yang berikutnya mulai, metode ini tidak berat sebelah karena pengaruh pribadi, meskipun mempunyai kelemahan bahwa jumlah mutlak tidak selalu menunjukkan kepentingan nisbi dalam suatu komunitas (McNaughton dan Wolf, 1990).

Hutan Mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Kita dapat mengetahui pelapisanpelapisan vegetasi penyusun hutan mangrove dari diagram profil ini, dengan asumsi bahwa makin kompleks suatu profil makin beranekaragamlah jenis hewan dan tumbuhan yang berasosiasi didalamnya (Resosoedarmo, dkk, 1985).

Formasi hutan mangrove terdiri dari empat genus utama, yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, dan Bruguier. Hutan mangrove alami membentuk zonasi tertentu. Bagian paling luar didominasi Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora, bagian tengah Bruguiera gymnorrhiza, bagian ketiga Xylocarpus, dan Heritieria, bagian dalam Bruguiera cylindrica, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Lumnitzera, sedangkan bagian transisi didominasi Cerbera manghas, Avicennia spp., Sonneratia spp., dan Rhizophora spp., baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, hamper selalu dijumpai dalam plot penelitian. Hal ini wajar mengingat ketiganya merupakan tumbuhan mangrove mayor yang selalu berada di garis terdepan berhadapan dengan garis pantai atau muara sungai (Chapman, 1992).

Formasi hutan mangrove terdiri dari empat genus utama, yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, dan Bruguiera. Hutan mangrove alami membentuk zonasi tertentu. Bagian paling luar didominasi Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora, bagian tengah Bruguiera gymnorrhiza, bagian ketiga Xylocarpus, dan Heritieria, bagian dalam Bruguiera cylindrica, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Lumnitzera, sedangkan bagian transisi didominasi Cerbera manghas. Pada perbatasan hutan mangrove dengan rawa air tawar tumbuh Nypa fruticans. Pada masa kini pola zonasi tersebut jarang ditemukan karena tingginya laju konversi habitat mangrove menjadi tambak, penebangan hutan, sedimentasi/reklamasi, dan pencemaran lingkungan (Odum, 1993).

Komposisi dan struktur biota pada saat ini. Spesies atau komunitas tertentu yang interaksinya unik dalam ekosistem dapat digunakan sebagai bioindikator untuk mengetahui kualitas lingkungan, mengidentifikasi permasalahan kawasan, dan memberikan peringatan awal berbagai perubahan yang kemungkinan terjadi pada masa depan. Pengetahuan tentang pola pertumbuhan berbagai vegetasi hutan dapat menjadi dasar untuk memprediksi kemungkinan perubahan lingkungan yang akan terjadi dimasa depan (Aumeeruddy, 1994).

Excoecaria agallocha, Aegiceras corniculatum, dan Xylocarpus spp. merupakan tumbuhan mangrove minor, umumnya tumbuh pada arah daratan, jauh dari fluktuasi genangan pasang-surut, namun dalam penelitian ini tumbuh-tumbuhan tersebut dapat dijumpai pada barisan terdepan, berbatasan langsung dengan tepi pantai atau muara sungai. Hal ini merupakan akibat terjadinya pengeringan area mangrove, baik secara sengaja maupun secara alami. Pengeringan area mangrove secara buatan umumnya terkait dengan pembuatan tambak atau sawah. (Soemarwoto, 2004).

Kita dapat mengetahui pelapisanpelapisan vegetasi penyusun hutan mangrove dari diagram profil ini, dengan asumsi bahwa makin kompleks suatu profil makin beranekaragamlah jenis hewan dan tumbuhan yang berasosiasi di dalamnya. Hutan mangrove ini mempunyai profil diagram yang khas baik secara vertikal maupun horizontalnya. Namun demikian gambaran profil diagram hutan mangrove ini hingga kini belum pernah divisualisasikan secara nyata disuatu daerah tertentu (Indriyanto, 2005).

Diagram profil hutan mangrove disuatu kawasan mangrove yang murni, menunjukkan kekompleksan secara vertikal. Kekompleksan ini tidak hanya dibentuk oleh lapisan-lapisan tajuk yang bervariasi dari jenis-jenis mangrove penyusunnya tetapi juga oleh sistem perakaran dari jenis-jenis mangrove tersebut, terutama marga Rhizophora. Diantara lima lokasi terpilih, pelapisan vegetasi mangrove (lapisan-lapisan tajuk bawah, tengah dan atas) lebih jelas terlihat di hutan mangrove Simacan dan Lempuyang, sedangkan pada ketiga lokasi pelapisannya lebih banyak terbentuk oleh sistem perakarannya (Resosoedarmo, dkk, 1985).

Kematian dari suatu pohon individu atau suatu kelompok menghasilkan suatu gap di dalam kanopi hutan yang memungkinkan pohon lain tumbuh. Ini pada gilirannya menjangkau kedewasaan dan barangkali senescence; kemudian mati. Kanopi Hutan, secara terus menerus mengganti pohon tumbuh dan mati. (Soemarwoto, 2004).

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Adapun praktikum Teknik Pembuatan Diagram Profil Arsitektur Pohon ini dilaksanakan pada hari Sabtu 2 Mei 2009 di Desa Kebun Ubi Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang dipergunakan pada praktikum Teknik Pembuatan Diagram Profil Arsitektur Pohon ini yaitu:

  1. Komunitas hutan alam sebagai objek percobaan
  2. Kertas millimeter untuk menggambar diagram
  3. Tally sheet untuk mencatat hasil yang diperoleh

Adapun alat yang dipergunakan pada praktikum Pengukuran Biomassa Tumbuhan Bawah ini yaitu:

  1. Kompas sebagai alat penunjuk arah
  2. Meteran sebagai alat untuk mengukur daerah yang akan digambar
  3. Phi-band sebagai alat untuk mengukur diameter pohon
  4. Walking stick sebagai alat untuk mengukur tinggi pohon
  5. Tali rafia, untuk membuat batas petak
  6. Golok atau parang untuk merintis jalur
  7. Galah sebagai alat bantu walking stick
  8. Alat tulis sebagai alat untuk mencatat data

Prosedur

Adapun prosedur praktikum Teknik Pembuatan Diagram Profil Arsitektur Pohon yaitu sebagai berikut:

1. Ditentukan secara purposive sampling komunitas hutan berdasarkan keterwakilan.

2. Dibuat petak contoh berbentuk jalur dengan arah tegak lurus kontur (gradien perubahan tempat tumbuh) dengan ukuran lebar 10 m dan panjang 60 m, ukuran petak contoh dapat berubah tergantung pada kondisi hutan.

3. Dianggap lebar jalur (10 m) sebagai sumbu Y dan panjang jalur (60 m) sebagai sumbu X.

4. Diberi nomor semua pohon yang berdiameter ≥ 7 cm atau tinggi total ≥ 4 m yang ada di petak contoh tersebut.

5. Dicatat nama jenis pohon dan ukur posisi masing-masing pohon terhadap titik koordinat X dan Y.

6. Diukur diameter batang pohon setinggi dada, tinggi total, dan tinggi bebas cabang, serta gambar bentuk percabangan dan bentuk tajuk.

7. Diukur luas proyeksi (penutupan) tajuk terhadap permukaan tanah paling tidak dari dua arah pengukuran, yaitu arah tajuk terlebar dan tersempit.

8. Digambar bentuk profil vertical dan horizontal (penutupan tajuk) pada kertas millimeter dengan skala yang memadai.

9. Ditentukan jenis dan jumlah pohon yang termasuk lapisan A, B dan C.

10. Ditentukan jenis dan jumlah pohon yang termasuk pohon masa depan, pohon masa kini dan pohon masa lampau.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Terlampir

Pembahasan

Data diagram profil pada ekosistem mangrove yang masih bagus menunjukkan kelimpahan jenisnya lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem mangrove yang sudah rusak. Hal ini berarti keanekaragaman hayati pada ekosistem mangrove yang masih bagus lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem mangrove yang sudah rusak.

Penentuan diagram profil suatu tegakan, baik dihutan alam, maupun hutan tanaman, ukuran petak sample ditentukan berdasarkan ukuran dan kerapatan tumbuh-tumbuhan yang dirisalah , serta dapat mewakili semua individu yang terdapat dalam lokasi penelitian. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Odum, 1993), yakni pada umumnya bentuk sample yang digunakan adalah persegi panjang, persegi, dan lingkaran. Persegi panjang memiliki keliling per-unit yang paling besar dan mempunya bagian tepi yang lebih sehingga akan berpengaruh pada pemilihan pohon tepi apakah masuk ke dalam plot atau tidak. Bentuk lingkaran sering lebih efisies untuk digunankan dibandingkan dengan bentuk persegi atau persegi panjang.

Terlihat banyak perbedaan ukuran tajuk yang satu dengan tajuk yang lainnya. Hal ini dikarenakan oleh adanya factor pembantu dalam kehidupan suatu tanaman yang ada dihutan mengrove. Cara menentukan diagram profil yakni ditentukan posisi setiap pohon, digambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu, diukur tinggi, diameter setinggi dada, tinggi cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Keanekaragaman ekosistem mangrove yang masih bagus lebih tinggi daripada ekosistem mangrove yang sudah rusak

2. Terdapat 3 sub petak yang kosong pada ekosistem mangrove yang sudah rusak

3. Jumlah individu tertinggi terdapat pada sub petak ke lima dengan jumlah 33 individu

4. Pada ekosistem mangrove yang rusak hanya didominasi oleh satu jenis saja

5. Persegi panjang memiliki keliling per-unit yang paling besar dan mempunya bagian tepi yang lebih sehingga akan berpengaruh pada pemilihan pohon tepi apakah masuk ke dalam plot atau tidak.

6. Nilai Dbh pada hutan mangrove bagus maupun hutan mangrove rusak, nilainya hampir sama.

Saran

Diharapkan kepada para praktikan agar lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan dan penganalisisan suatu data, sehingga diperoleh data yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Chapman, V.J. 1992. Wet coastal formations of Indo Malesia and Papua- New Guinea. In Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal Ecosystems. Amsterdam: Elsevier.

Indriyanto, 2005. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.

Nugroho, L.H., dan Sumardi, I. 2004. Biologi Dasar. Penebar Swadaya. Jakarta.

Odum, E. HLM. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingan dari buku Fundamentals of Ecology. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Onrizal. 2008. Petunjuk Praktikum Ekologi Hutan. Departemen Kehutanan. Fakultas Pertanian USU. Medan.

Resosoedarmo, S., Kartawinata, K. dan Soegiarto, A. 1985. Pengantar Ekologi. Fakultas Pasca Sarjana IKIP. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Jakarta.

Soemarwoto, O. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Analisis Vegetasi Hutan Mangrove

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Komponen ekosistem yang lengkap dan baik harus mengandung produsen, konsumen, pengurai, dan komponen tidak hidup (abiotik). Sebagai produsen tumbuhan hijau yang merupakan satu-satunya komponen yang dapat mengikat energi matahari secara langsung dan diubah menjadi energi kimia dalam proses fotosintesis. Konsumen yang mengkonsumsi energi yang dihasilkan produsen, secara umum dibedakan menjadi makrokonsumen (pemakan produsen langsung dan karnivora) dan mikrokonsumen (pengurai) (Heddy, 1994).

Pengukuran dan pengambilan contoh tumbuhan atau analisis vegetasi secara garis besarnya dapat dibagi atas dua metoda, yaitu metoda petak contoh dan metoda tanpa petak. Pada metoda petak contoh pengukuran peubah dasasr dilakukan dengan cara penaksiran berdasarkan petak contoh. Bila habitatnya itu berupa suatu daerah yang luas maka diambillah seluas tertentu dari daerah itu dan dari daerah contoh itu dihitunglah tumbuhan yang diteliti tersebut. Pengukuran yang dilakukan pada petak contoh tersebut digunakan sebagai penaksir dari keadaan semua lokasi penelitian (Suin, 2002).

Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis ”Mangue” dan bahasa Inggris ”grove”. Dalam bahasa inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut (Kusuma, et al, 2003).

Hutan sebagai ekosistem harus dapat dipertahankan kualitas dan kuantitasnya dengan cara pendekatan konservasi dalam pengelolaan ekosistem. Pemanfaatan ekosistem hutan akan tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan kehadiran keseluruhan fungsinya. Pengelolaan hutan yang hanya mempertimbangkan salah satu fungsi saja akan menyebabkan kerusakan hutan (Chapman, 1992).

Keanekaragaman jenis hutan mangrove dengan komunitas hutan yang ada di pulau Marsegu, keanekaragaman jenisnya sangat rendah. Hal ini disebabkan tumbuhan yang hidup di daerah ini harus beradaptasi dengan genangan air laut dan salinitas yang tinggi. Jenis vegetasi mangrove mempunyai bentuk khusus yang menyebabkan mereka dapat hidup di perairan yang dangkal yaitu mempunyai akar pendek, menyebar luas dengan akar penyangga atau tundung akarnya yang khas tumbuh dari batang dan atau dahan. Akar-akar dangkal sering memanjang yang disebut ”pneumatofor” ke permukaan subtrat yang memungkinkan mereka mendapatkan oksigen dalam lumpur yang anoksik dimana pohon-pohon ini tumbuh. Daun-daunnya kuat dan mengandung banyak air dan mempunyai jaringan internal penyimpan air dan konsentrasi garamnya tinggi. Beberapa jenis tumbuhan mangrove mempunyai kelenjar garam yang menolong menjaga keseimbangan osmotik dengan mengeluarkan garam (Nybakken, 1988).

Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui komposisi jenis dan struktur hutan alam.

TINJAUAN PUSTAKA

Mangrove tropika sering memperlihatkan zonasi spesies dari lahan basah ke lahan yang lebih kering. Zonasi yang pertama sering terdiri dari Rhizophora atau Avicennia. Bila Rhizophora memantapkan diri dalam laguna mulai terjadi suksesi, karena akar tunjang pohon itu mulai menangkap partikel lumpur dan tumbuhan mati. Keadaan ini menyebabkan penimbunan bahan seresah yang membantu meninggikan permukaan tanah apabila tumbuhan Rhizophora tua mati, tempatnya sering digantikan oleh tumbuhan daratan yang lebih lazim yang khas untuk daerah lingkungan laguna itu Tanah pada hutan mangrove berlumpur dan jenuh dengan air dan dapat dikatakan tidak mengandung oksigen, dalam kondisi ini hanya beberapa tumbuhan yang dapat hidup. Kebanyakan tumbuhan dalam hutan mangrove adalah “halofit”, yaitu tumbuhan yang beradaptasi untuk tumbuh dalam habitat yang asin (Ewusie, 1990).

Vegetasi merupakan kumpulan individu-individu tumbuhan yang membentuk suatu kesatuan yang saling bergantung satu sama. Adapun vegetasi terdiri dari semua jenis tumbuhan yang ada dalam suatu wilayah. Dalam penelitian tentang ekologi vegetasi, komposisi dan struktur vegetasi sangat diperlukan. Struktur vegetasi merupakan susunan vertikal dan distribusi spasial dari tumbuh-tumbuhan dalam suatu komunitas. Dimana struktur vegetasi merupakan pengaturan ruang hidup suatu individu yang unsur utamanya adalah bentuk pertumbuhan (growth form), stratifikasi, dan penutupan tajuk (Indriyanto, 2005).

Keanekaragaman hayati yang sangat tinggi merupakan suatu koleksi yang unik dan mempunyai potensi genetik yang besar pula. Namun hutan yang merupakan sumberdaya alam ini telah mengalami banyak perubahan dan sangat rentan terhadap kerusakan. Sebagai salah satu sumber devisa negara, hutan telah dieksploitasi secara besar-besaran untuk diambil kayunya. Eksploitasi ini menyebabkan berkurangnya luasan hutan dengan sangat cepat. Keadaan semakin diperburuk dengan adanya konversi lahan hutan secara besar-besaran untuk lahan pemukiman, perindustrian, pertambangan, pertanian, perkebunan, peternakan serta kebakaran hutan yang selalu terjadi di sepanjang tahun. Berbeda halnya dengan hutan mangrove yang memiliki kayu dengan akar yang sangat kuat dan kokoh. Tanaman mangrove ini sangat bermanfaat bagi pondasi tanah atau lumpur yang berada dipinggiran hutan mangrove tersebut. Kayu dari tanaman mangrove atau tanaman bakau ini sangat kuat untuk dijadikan pondasi bahan bangunan, hanya saja tanaman ini memiliki kriteria kayu yang berdiameter kecil, sehingga sangat sulit untuk dijual dipasaran kayu konstruksi. Biasanya kayu bakau ini dijadikan sebagai kayu bakar, arang, dan konstruksi bangunan sekitar pantai (Odum, 1993).

Struktur vegetasi dapat dikategorikan paling tidak dalam 5 tingkatan, yaitu: kenampakan vegetasi (physiognomy), struktur biomasa (biomass structure), struktur bentuk tumbuh (life form structure), struktur pembungaan (floristic structure), dan struktur tegakan (stands structure). Kelima tingkatan struktur vegetasi tersebut secara hirarki terpadu, dimana tingkatan pertama mancakup yang kedua, yang kedua mencakup yang ketiga, demikian seterusnya. Habitat suatu organisme adalah tempat organisme itu hidup, atau tempat ke mana seseorang harus pergi untuk menemukannya (Aumeeruddy, 1994).

Mangrove tropika sering memperlihatkan zonasi spesies dari lahan basah ke lahan yang lebih kering. Zonasi yang pertama sering terdiri dari Rhizophora atau Avicennia. Bila Rhizophora memantapkan diri dalam laguna mulai terjadi suksesi, karena akar tunjang pohon itu mulai menangkap partikel lumpur dan tumbuhan mati. Keadaan ini menyebabkan penimbunan bahan seresah yang membantu meninggikan permukaan tanah apabila tumbuhan Rhizophora tua mati, tempatnya sering digantikan oleh tumbuhan daratan yang lebih lazim yang khas untuk daerah lingkungan laguna itu Tanah pada hutan mangrove berlumpur dan jenuh dengan air dan dapat dikatakan tidak mengandung oksigen, dalam kondisi ini hanya beberapa tumbuhan yang dapat hidup. Kebanyakan tumbuhan dalam hutan mangrove adalah “halofit”, yaitu tumbuhan yang beradaptasi untuk tumbuh dalam habitat yang asin (Ewusie, 1990).

Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis ”Mangue” dan bahasa Inggris ”grove”. Dalam bahasa inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut (Kusuma, et al, 2003).

Teknik kuadrat umumnya dipergunakan untuk untuk memperoleh keterangan mengenai bentuk komposisi (susunan) komunitas tumbuh-tumbuhan darat. Ukuran petak sample ditentukan berdasarkan ukuran dan kerapatan tumbuh-tumbuhan yang dirisalah , serta dapat mewakili semua individu yang terdapat dalam lokasi penelitian. Karakteristik pohon harus dimasukkan di dalam kuadarat. Setelah menetapkan vegetasi yang akan dihitung, pengamat harus menetapkan ukuran dan bentuk kuadrat yang akan digunakan. Pada umumnya bentuk sample yang digunakan adalah persegi panjang, persegi, dan lingkaran. Persegi panjang memiliki keliling per-unit yang paling besar dan mempunya bagian tepi yang lebih sehingga akan berpengaruh pada pemilihan pohon tepi apakah masuk ke dalam plot atau tidak. Bentuk lingkaran sering lebih efisies untuk digunankan dibandingkan dengan bentuk persegi atau persegi panjang. Sample lingkaran juga efektif untuk mengkarakteristikan kondisi sekitar, seperti sarang, tempat makan, atau tempat istirahat (Resosoedarmo, dkk, 1985).

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Adapun praktikum Analisis Vegetasi Hutan Alam ini dilaksanakan pada hari Sabtu 2 Mei 2009 di Pulau Kebun Ubi Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang dipergunakan pada praktikum Analisis Vegetasi Hutan Alam ini yaitu:

  1. Ekositem hutan alam sebagai objek percobaan
  2. Tally sheet untuk mencatat hasil yang diperoleh

Adapun alat yang dipergunakan pada praktikum Pengukuran Biomassa Tumbuhan Bawah ini yaitu:

  1. Kompas sebagai alat penunjuk arah
  2. Tali plastic sebagai alat pembatas jalur
  3. Meteran sebagai alat untuk mengukur daerah yang akan digambar
  4. Phi-band sebagai alat untuk mengukur diameter pohon
  5. Walking stick sebagai alat untuk mengukur tinggi pohon
  6. Tali rafia, untuk membuat batas petak
  7. Golok atau parang untuk merintis jalur
  8. Galah sebagai alat bantu walking stick
  9. Perlengkapan herbarium untuk membuat herbarium
  10. Alat tulis sebagai alat untuk mencatat data

Prosedur

Adapun prosedur praktikum Analisis Vegetasi Hutan Alam yaitu sebagai berikut:

1. Dibuat regu kerja, setiap regu beranggotakan 6-10 orang

2. Ditentukan lokasi jalur (unit contoh) di atas peta, panjang masing-masing jalur ditentukan berdasarkan lebar hutan (dalam praktikum ini panjang jalur 200 m per regu). Jalur dibuat dengan arah tegak lurus kontur.

3. Dibuat unit contoh jalur

4. Diidentifikasi jenis dan jumlah individu untuk semai dan pancang. Sedangkan untuk tiang dan pohon, selain dihitung jumlahnya juga diukur diameternya (diameter setinggi dada) dan tingginya (tinggi total dan tinggi bebas cabang). Data hasil pengukuran lapangan tersebut dibuat pada tally sheet. Dalam praktikum ini digunakan criteria pertumbuhan sebagai berikut :

a. Semai : anakan pohon mulai kecambah sampai setinggi <>

b. Pancang : anakan pohon yang tingginya ≥ 1,5 m sampai diameter <>

c. Tiang : pohon muda yang diameternya mulai 7 cm sampai <>

d. Pohon : pohon dewasa berdiameter ≥ 20 cm

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Terlampir

Pembahasan

Melalaui analisis vegetsi hutan mangrove yang dilakukan terdapat data yang menyatakan bahwa keadaan ekosistem mangrove pada beberapa bagian dari Desa Kebun Ubi sangat memprihatinkan, karena keadaan vegetasinya yang sangat jarang bahkan pada beberapa daerah terdapat lahan kosong bekas pembukab tambak yang ditinggalkan begitu saja. Penuturan para warga bahwa rusaknya habitat mangrove di Desa Kebun Ubi adalah diakibatkan oleh konversi habitat mangrove menjadi tambak-tambak ikan. Kegiatan pembukaan tambak ini umumnya dilakukan oleh pengusaha-pengusaha dari luar daerah Desa Kebun Ubi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Chapman (1992) yang menytakan bahwa hutan sebagai ekosistem harus dapat dipertahankan kualitas dan kuantitasnya dengan cara pendekatan konservasi dalam pengelolaan ekosistem. Pemanfaatan ekosistem hutan akan tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan kehadiran keseluruhan fungsinya. Pengelolaan hutan yang hanya mempertimbangkan salah satu fungsi saja akan menyebabkan kerusakan hutan.

Analisis vegetasi yang dilakukan pada ekosistem mangrove yang masih alami menunjukkan bahwa keadaan struktur hutannya masih bagus dengan kerapatan yang tinggi. Dengan hampir rata-rata jumlah individu pohon mencapai 25 individu pada setiap sub petak ukurnya. Hal ini menunjukkan bahwa indeks nilai pentingnya tinggi. Dengan demikian pada lahan ini perlu adanya usaha pelestarian mangrove, agar kawasan mangrove yang semakin menurun ini dapat terjaga kealaiannya.

Bila kita amati dalam kurun waktu tertentu akan terlihat bahwa komunitas yang terbentuk pada akhir kurun waktu tersebut akan berbeda, baik komposisi jenis maupun strukturnya, dengan komunitas yang terbentuk pada aal pengamatan. Hal ini dapat terlihat pada hutan mangrove yang sudah rusak. Biasanya hutan ini akan mengalami bertambahnya tumbuhan yang hidup didalamnya dan meninggalkan serasah serta batang-batang pohon yang sudah mati dan menjadikan tumpukan serasah yang bercampur dengan lumpur yang nantinya akan menjadi tempat tinggal tanaman lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ewusie (1990), yakni Bila Rhizophora memantapkan diri dalam laguna mulai terjadi suksesi, karena akar tunjang pohon itu mulai menangkap partikel lumpur dan tumbuhan mati. Keadaan ini menyebabkan penimbunan bahan seresah yang membantu meninggikan permukaan tanah apabila tumbuhan Rhizophora tua mati.

Terdapat perbedan yang nyata antara ekosistem mangrove yang masih bagus dan hutan mangrove yang sudah rusak. Dimana jumlah spesies pada ekosistem mangrove yang masih bagus adalah 4 spesies dan pada ekosistem mangrove yang sudah rusak hanya 2 spesies. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis lebih tinggi di ekosistem mangrove yang masih bagus daripada di ekosistem mangrove yang sudah rusak.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pada ekosistem mangrove yang masih bagus terdapat 4 spesies dan pada ekosistem mangrove yang sudah rusak hanya terdapat 2 spesies

2. Jumlah kerapatan realtif pada tingakat semai mencapai 100%

3. Terdapat 3 sub petak ukur yang kosong pada ekosistem mangrove yang sudah rusak

4. Pada ekosistem mangrove yang sudah rusak didominasi oleh satu jenis spesies

5. Ukuran petak sangat mempengaruhi data yang diperoleh, yakni baik pada semai, pancang, maupun pohon.

6. Jumlah kerapatan realtif pada tingkat pohon mencapai 100%

Saran

Diharapkan kepada para praktikan agar lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan dan penganalisisan suatu data, dan para praktikan lebih serius lagi dalam menjalankan praktikum ini.

DAFTAR PUSTAKA

Aumeeruddy, Y. 1994. Local Representations and Management of Agroforests on the Periphery of Kerinci Seblat National Park, Sumatra, Indonesia, People and Plants Working Paper 3. Paris: UNESCO.

Chapman, V.J. 1992. Wet coastal formations of Indo Malesia and Papua- New Guinea. In Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal Ecosystems. Amsterdam: Elsevier.

Ewusie, J. Y, 1990. Ekologi Tropika. Membicarakan Alam Tropika Afrika, Asia, Pasifik dan Dunia Baru. Penerbit ITB. Bandung.

Heddy, S.1994. Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi. PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta.

Indriyanto, 2005. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.

Kusuma, C, Onrizal dan Sudarmaji, 2003. Jenis-Jenis Pohon Mangrove di teluk Bintuni, Papua, Diterbitkan atas kerjasama Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan PT. Bintuni Utama Murni. Wood Industries. Bogor.

Nybakken, J.W, 1998. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia, Jakarta.

Odum, E. HLM. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingan dari buku Fundamentals of Ecology. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Resosoedarmo, S., Kartawinata, K. dan Soegiarto, A. 1985. Pengantar Ekologi. Fakultas Pasca Sarjana IKIP. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Jakarta.