PENDAHULUAN
Latar Belakang
Komponen ekosistem yang lengkap dan baik harus mengandung produsen, konsumen, pengurai, dan komponen tidak hidup (abiotik). Sebagai produsen tumbuhan hijau yang merupakan satu-satunya komponen yang dapat mengikat energi matahari secara langsung dan diubah menjadi energi kimia dalam proses fotosintesis. Konsumen yang mengkonsumsi energi yang dihasilkan produsen, secara umum dibedakan menjadi makrokonsumen (pemakan produsen langsung dan karnivora) dan mikrokonsumen (pengurai) (Heddy, 1994).
Pengukuran dan pengambilan contoh tumbuhan atau analisis vegetasi secara garis besarnya dapat dibagi atas dua metoda, yaitu metoda petak contoh dan metoda tanpa petak. Pada metoda petak contoh pengukuran peubah dasasr dilakukan dengan cara penaksiran berdasarkan petak contoh. Bila habitatnya itu berupa suatu daerah yang luas maka diambillah seluas tertentu dari daerah itu dan dari daerah contoh itu dihitunglah tumbuhan yang diteliti tersebut. Pengukuran yang dilakukan pada petak contoh tersebut digunakan sebagai penaksir dari keadaan semua lokasi penelitian (Suin, 2002).
Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis ”Mangue” dan bahasa Inggris ”grove”. Dalam bahasa inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut (Kusuma, et al, 2003).
Hutan sebagai ekosistem harus dapat dipertahankan kualitas dan kuantitasnya dengan cara pendekatan konservasi dalam pengelolaan ekosistem. Pemanfaatan ekosistem hutan akan tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan kehadiran keseluruhan fungsinya. Pengelolaan hutan yang hanya mempertimbangkan salah satu fungsi saja akan menyebabkan kerusakan hutan (Chapman, 1992).
Keanekaragaman jenis hutan mangrove dengan komunitas hutan yang ada di pulau Marsegu, keanekaragaman jenisnya sangat rendah. Hal ini disebabkan tumbuhan yang hidup di daerah ini harus beradaptasi dengan genangan air laut dan salinitas yang tinggi. Jenis vegetasi mangrove mempunyai bentuk khusus yang menyebabkan mereka dapat hidup di perairan yang dangkal yaitu mempunyai akar pendek, menyebar luas dengan akar penyangga atau tundung akarnya yang khas tumbuh dari batang dan atau dahan. Akar-akar dangkal sering memanjang yang disebut ”pneumatofor” ke permukaan subtrat yang memungkinkan mereka mendapatkan oksigen dalam lumpur yang anoksik dimana pohon-pohon ini tumbuh. Daun-daunnya kuat dan mengandung banyak air dan mempunyai jaringan internal penyimpan air dan konsentrasi garamnya tinggi. Beberapa jenis tumbuhan mangrove mempunyai kelenjar garam yang menolong menjaga keseimbangan osmotik dengan mengeluarkan garam (Nybakken, 1988).
Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui komposisi jenis dan struktur hutan alam.
TINJAUAN PUSTAKA
Mangrove tropika sering memperlihatkan zonasi spesies dari lahan basah ke lahan yang lebih kering. Zonasi yang pertama sering terdiri dari Rhizophora atau Avicennia. Bila Rhizophora memantapkan diri dalam laguna mulai terjadi suksesi, karena akar tunjang pohon itu mulai menangkap partikel lumpur dan tumbuhan mati. Keadaan ini menyebabkan penimbunan bahan seresah yang membantu meninggikan permukaan tanah apabila tumbuhan Rhizophora tua mati, tempatnya sering digantikan oleh tumbuhan daratan yang lebih lazim yang khas untuk daerah lingkungan laguna itu Tanah pada hutan mangrove berlumpur dan jenuh dengan air dan dapat dikatakan tidak mengandung oksigen, dalam kondisi ini hanya beberapa tumbuhan yang dapat hidup. Kebanyakan tumbuhan dalam hutan mangrove adalah “halofit”, yaitu tumbuhan yang beradaptasi untuk tumbuh dalam habitat yang asin (Ewusie, 1990).
Vegetasi merupakan kumpulan individu-individu tumbuhan yang membentuk suatu kesatuan yang saling bergantung satu sama. Adapun vegetasi terdiri dari semua jenis tumbuhan yang ada dalam suatu wilayah. Dalam penelitian tentang ekologi vegetasi, komposisi dan struktur vegetasi sangat diperlukan. Struktur vegetasi merupakan susunan vertikal dan distribusi spasial dari tumbuh-tumbuhan dalam suatu komunitas. Dimana struktur vegetasi merupakan pengaturan ruang hidup suatu individu yang unsur utamanya adalah bentuk pertumbuhan (growth form), stratifikasi, dan penutupan tajuk (Indriyanto, 2005).
Keanekaragaman hayati yang sangat tinggi merupakan suatu koleksi yang unik dan mempunyai potensi genetik yang besar pula. Namun hutan yang merupakan sumberdaya alam ini telah mengalami banyak perubahan dan sangat rentan terhadap kerusakan. Sebagai salah satu sumber devisa negara, hutan telah dieksploitasi secara besar-besaran untuk diambil kayunya. Eksploitasi ini menyebabkan berkurangnya luasan hutan dengan sangat cepat. Keadaan semakin diperburuk dengan adanya konversi lahan hutan secara besar-besaran untuk lahan pemukiman, perindustrian, pertambangan, pertanian, perkebunan, peternakan serta kebakaran hutan yang selalu terjadi di sepanjang tahun. Berbeda halnya dengan hutan mangrove yang memiliki kayu dengan akar yang sangat kuat dan kokoh. Tanaman mangrove ini sangat bermanfaat bagi pondasi tanah atau lumpur yang berada dipinggiran hutan mangrove tersebut. Kayu dari tanaman mangrove atau tanaman bakau ini sangat kuat untuk dijadikan pondasi bahan bangunan, hanya saja tanaman ini memiliki kriteria kayu yang berdiameter kecil, sehingga sangat sulit untuk dijual dipasaran kayu konstruksi. Biasanya kayu bakau ini dijadikan sebagai kayu bakar, arang, dan konstruksi bangunan sekitar pantai (Odum, 1993).
Struktur vegetasi dapat dikategorikan paling tidak dalam 5 tingkatan, yaitu: kenampakan vegetasi (physiognomy), struktur biomasa (biomass structure), struktur bentuk tumbuh (life form structure), struktur pembungaan (floristic structure), dan struktur tegakan (stands structure). Kelima tingkatan struktur vegetasi tersebut secara hirarki terpadu, dimana tingkatan pertama mancakup yang kedua, yang kedua mencakup yang ketiga, demikian seterusnya. Habitat suatu organisme adalah tempat organisme itu hidup, atau tempat ke mana seseorang harus pergi untuk menemukannya (Aumeeruddy, 1994).
Mangrove tropika sering memperlihatkan zonasi spesies dari lahan basah ke lahan yang lebih kering. Zonasi yang pertama sering terdiri dari Rhizophora atau Avicennia. Bila Rhizophora memantapkan diri dalam laguna mulai terjadi suksesi, karena akar tunjang pohon itu mulai menangkap partikel lumpur dan tumbuhan mati. Keadaan ini menyebabkan penimbunan bahan seresah yang membantu meninggikan permukaan tanah apabila tumbuhan Rhizophora tua mati, tempatnya sering digantikan oleh tumbuhan daratan yang lebih lazim yang khas untuk daerah lingkungan laguna itu Tanah pada hutan mangrove berlumpur dan jenuh dengan air dan dapat dikatakan tidak mengandung oksigen, dalam kondisi ini hanya beberapa tumbuhan yang dapat hidup. Kebanyakan tumbuhan dalam hutan mangrove adalah “halofit”, yaitu tumbuhan yang beradaptasi untuk tumbuh dalam habitat yang asin (Ewusie, 1990).
Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis ”Mangue” dan bahasa Inggris ”grove”. Dalam bahasa inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut (Kusuma, et al, 2003).
Teknik kuadrat umumnya dipergunakan untuk untuk memperoleh keterangan mengenai bentuk komposisi (susunan) komunitas tumbuh-tumbuhan darat. Ukuran petak sample ditentukan berdasarkan ukuran dan kerapatan tumbuh-tumbuhan yang dirisalah , serta dapat mewakili semua individu yang terdapat dalam lokasi penelitian. Karakteristik pohon harus dimasukkan di dalam kuadarat. Setelah menetapkan vegetasi yang akan dihitung, pengamat harus menetapkan ukuran dan bentuk kuadrat yang akan digunakan. Pada umumnya bentuk sample yang digunakan adalah persegi panjang, persegi, dan lingkaran. Persegi panjang memiliki keliling per-unit yang paling besar dan mempunya bagian tepi yang lebih sehingga akan berpengaruh pada pemilihan pohon tepi apakah masuk ke dalam plot atau tidak. Bentuk lingkaran sering lebih efisies untuk digunankan dibandingkan dengan bentuk persegi atau persegi panjang. Sample lingkaran juga efektif untuk mengkarakteristikan kondisi sekitar, seperti sarang, tempat makan, atau tempat istirahat (Resosoedarmo, dkk, 1985).
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Adapun praktikum Analisis Vegetasi Hutan Alam ini dilaksanakan pada hari Sabtu 2 Mei 2009 di Pulau Kebun Ubi Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang dipergunakan pada praktikum Analisis Vegetasi Hutan Alam ini yaitu:
- Ekositem hutan alam sebagai objek percobaan
- Tally sheet untuk mencatat hasil yang diperoleh
Adapun alat yang dipergunakan pada praktikum Pengukuran Biomassa Tumbuhan Bawah ini yaitu:
- Kompas sebagai alat penunjuk arah
- Tali plastic sebagai alat pembatas jalur
- Meteran sebagai alat untuk mengukur daerah yang akan digambar
- Phi-band sebagai alat untuk mengukur diameter pohon
- Walking stick sebagai alat untuk mengukur tinggi pohon
- Tali rafia, untuk membuat batas petak
- Golok atau parang untuk merintis jalur
- Galah sebagai alat bantu walking stick
- Perlengkapan herbarium untuk membuat herbarium
- Alat tulis sebagai alat untuk mencatat data
Prosedur
Adapun prosedur praktikum Analisis Vegetasi Hutan Alam yaitu sebagai berikut:
1. Dibuat regu kerja, setiap regu beranggotakan 6-10 orang
2. Ditentukan lokasi jalur (unit contoh) di atas peta, panjang masing-masing jalur ditentukan berdasarkan lebar hutan (dalam praktikum ini panjang jalur 200 m per regu). Jalur dibuat dengan arah tegak lurus kontur.
3. Dibuat unit contoh jalur
4. Diidentifikasi jenis dan jumlah individu untuk semai dan pancang. Sedangkan untuk tiang dan pohon, selain dihitung jumlahnya juga diukur diameternya (diameter setinggi dada) dan tingginya (tinggi total dan tinggi bebas cabang). Data hasil pengukuran lapangan tersebut dibuat pada tally sheet. Dalam praktikum ini digunakan criteria pertumbuhan sebagai berikut :
a. Semai : anakan pohon mulai kecambah sampai setinggi <>
b. Pancang : anakan pohon yang tingginya ≥ 1,5 m sampai diameter <>
c. Tiang : pohon muda yang diameternya mulai 7 cm sampai <>
d. Pohon : pohon dewasa berdiameter ≥ 20 cm
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Terlampir
Pembahasan
Melalaui analisis vegetsi hutan mangrove yang dilakukan terdapat data yang menyatakan bahwa keadaan ekosistem mangrove pada beberapa bagian dari Desa Kebun Ubi sangat memprihatinkan, karena keadaan vegetasinya yang sangat jarang bahkan pada beberapa daerah terdapat lahan kosong bekas pembukab tambak yang ditinggalkan begitu saja. Penuturan para warga bahwa rusaknya habitat mangrove di Desa Kebun Ubi adalah diakibatkan oleh konversi habitat mangrove menjadi tambak-tambak ikan. Kegiatan pembukaan tambak ini umumnya dilakukan oleh pengusaha-pengusaha dari luar daerah Desa Kebun Ubi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Chapman (1992) yang menytakan bahwa hutan sebagai ekosistem harus dapat dipertahankan kualitas dan kuantitasnya dengan cara pendekatan konservasi dalam pengelolaan ekosistem. Pemanfaatan ekosistem hutan akan tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan kehadiran keseluruhan fungsinya. Pengelolaan hutan yang hanya mempertimbangkan salah satu fungsi saja akan menyebabkan kerusakan hutan.
Analisis vegetasi yang dilakukan pada ekosistem mangrove yang masih alami menunjukkan bahwa keadaan struktur hutannya masih bagus dengan kerapatan yang tinggi. Dengan hampir rata-rata jumlah individu pohon mencapai 25 individu pada setiap sub petak ukurnya. Hal ini menunjukkan bahwa indeks nilai pentingnya tinggi. Dengan demikian pada lahan ini perlu adanya usaha pelestarian mangrove, agar kawasan mangrove yang semakin menurun ini dapat terjaga kealaiannya.
Bila kita amati dalam kurun waktu tertentu akan terlihat bahwa komunitas yang terbentuk pada akhir kurun waktu tersebut akan berbeda, baik komposisi jenis maupun strukturnya, dengan komunitas yang terbentuk pada aal pengamatan. Hal ini dapat terlihat pada hutan mangrove yang sudah rusak. Biasanya hutan ini akan mengalami bertambahnya tumbuhan yang hidup didalamnya dan meninggalkan serasah serta batang-batang pohon yang sudah mati dan menjadikan tumpukan serasah yang bercampur dengan lumpur yang nantinya akan menjadi tempat tinggal tanaman lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ewusie (1990), yakni Bila Rhizophora memantapkan diri dalam laguna mulai terjadi suksesi, karena akar tunjang pohon itu mulai menangkap partikel lumpur dan tumbuhan mati. Keadaan ini menyebabkan penimbunan bahan seresah yang membantu meninggikan permukaan tanah apabila tumbuhan Rhizophora tua mati.
Terdapat perbedan yang nyata antara ekosistem mangrove yang masih bagus dan hutan mangrove yang sudah rusak. Dimana jumlah spesies pada ekosistem mangrove yang masih bagus adalah 4 spesies dan pada ekosistem mangrove yang sudah rusak hanya 2 spesies. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis lebih tinggi di ekosistem mangrove yang masih bagus daripada di ekosistem mangrove yang sudah rusak.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pada ekosistem mangrove yang masih bagus terdapat 4 spesies dan pada ekosistem mangrove yang sudah rusak hanya terdapat 2 spesies
2. Jumlah kerapatan realtif pada tingakat semai mencapai 100%
3. Terdapat 3 sub petak ukur yang kosong pada ekosistem mangrove yang sudah rusak
4. Pada ekosistem mangrove yang sudah rusak didominasi oleh satu jenis spesies
5. Ukuran petak sangat mempengaruhi data yang diperoleh, yakni baik pada semai, pancang, maupun pohon.
6. Jumlah kerapatan realtif pada tingkat pohon mencapai 100%
Saran
Diharapkan kepada para praktikan agar lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan dan penganalisisan suatu data, dan para praktikan lebih serius lagi dalam menjalankan praktikum ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aumeeruddy, Y. 1994. Local Representations and Management of Agroforests on the Periphery of Kerinci Seblat National Park, Sumatra, Indonesia, People and Plants Working Paper 3. Paris: UNESCO.
Chapman, V.J. 1992. Wet coastal formations of Indo Malesia and Papua- New Guinea. In Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal Ecosystems. Amsterdam: Elsevier.
Ewusie, J. Y, 1990. Ekologi Tropika. Membicarakan Alam Tropika Afrika, Asia, Pasifik dan Dunia Baru. Penerbit ITB. Bandung.
Heddy, S.1994. Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi. PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta.
Indriyanto, 2005. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.
Kusuma, C, Onrizal dan Sudarmaji, 2003. Jenis-Jenis Pohon Mangrove di teluk Bintuni, Papua, Diterbitkan atas kerjasama Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan PT. Bintuni Utama Murni. Wood Industries. Bogor.
Nybakken, J.W, 1998. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia, Jakarta.
Odum, E. HLM. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingan dari buku Fundamentals of Ecology. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Resosoedarmo, S., Kartawinata, K. dan Soegiarto, A. 1985. Pengantar Ekologi. Fakultas Pasca Sarjana IKIP. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar