cintai lingkungan hidup di sekitar kita

welcome indonesian foretser's

Kamis, 04 Februari 2010

HAMA PENGGEREK PUCUK (Hysiphylla sp.) PADA TANAMAN MAHONI (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.)


HAMA PENGGEREK PUCUK (Hysiphylla sp.) PADA TANAMAN MAHONI (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.)



OLEH

Harry Kurniawan

071201001

Manajemen Hutan

Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara



PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mahoni (Switenia sp) merupakan spesies dengan mutu kayu yang baik untuk bahan bangunan. Beberapa hama dan penyakit yang terindentifikasi antara lain :

a) Serangan pada persemaian mahoni disebabkan oleh Xylosandrus compactus (scolytid beetle) sejenis kumbang sisik yang menyerang batang semai. Merupakan famili Coleoptera, Scolyptidae. Hama ini meletakan telurnya di dalam batang, dan larvanya hidup di dalam batang tersebut, sehingga mengakibatkan kerusakan, dan semai tersebut roboh/mati. Selain pada semai, kadang hama ini juga meletakan telur-telurnya pada ranting dan cabang pohon lainnya.

b) Penggerek pucuk Hypsipyla robusta (shoot borer)

Merupakan famili Lepidoptera; Pyralida. Pada tingkat larva menyerang tegakan pada tingkat sapling terutama pada umur 3 – 6 tahun dengan tinggi antara 2 – 8 m, pada pohon dengan umur tua jarang dijumpai serangan ini. Dengan daur hidup 1 – 2 bulan, berbagai tingkatan larva dapat sekaligus melakukan penyerangan berulang kali.

Gejala yang nampak adalah pucuk tiba-tiba menjadi layu, mengering dan lama-lama mati. Jika dipotong bagian batang pucuk yang mati akan dijumpai terdapat larva kumbang (seperti ulat) berada di dalamnya.

Sampai saat ini belum ditemukan metode yang efektif guna mengatasinya. Pencegahan yang diajurkan antara lain penanaman multikultur (campur) antara mahoni dan akasia mangium (Matsumoto et al, 1997) dan pencampuran dengan Azadirachta indica (mimbo). (Suharti, 1995)

c) Ulat pemakan daun

Hama lain yang menyerang tanaman mahoni adalah ulat pemakan daun Attacus atlas (Lepidoptera, Saturnidae) dan sejenis lebah pemotong daun Megachile sp (Hymenoptera, Megachilidae). Serangan hama ini belum dianggap merugikan karena intensitas dan dampaknya yang masih minor/kecil.

d) Jamur akar

Jamur ini menyerang pada pertengahan musim hujan tumbuh dari bawah menyebar dengan cepat dan seringkali menyebabkan kematian pohon pada akhir musim hujan. Jamur ini diperkirakan menular melalui aliran air terutama pada daerah miring serta masuk lewat luka pada akar tanaman dan menyerang seluruh bagian tanaman. Serangan penyakit ini pernah terjadi pada tegakan mahoni di Puwodadi dan menyerang hampir 40% dari tegakan yang ada (Sumardi dan Widyastuti, tidak dipublikasikan) (Puslitbang, 2008).

Upaya pencegahan hama dan penyakit ditujukan untuk mempersempit potensi serangan HPT. Upaya tersebut adalah dengan mengelola/memanipulasi lingkungan bio-fisik yang tidak disukai HPT tersebut. HPT akan berkembang dengan baik jika lingkungan bio-fisik mendukung perkembangannya serta jumlah pakan/makanan tersedia melimpah. Oleh karena itu, upaya pencegahan HPT didorong pada upaya monitoring rutin dan sistem silvikultur yang mendukung tanaman dan tidak mendukung HPT (Proyanto, 1999).

Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebaga berikut :

- untuk mengetahui cara pengendalian hama

- untuk menganalisis hama pada mahoni (Switenia mahagoni)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.)

Berdasarkan klasifikasi ilmiahnya, tanaman ini termasuk dalam keluarga/familia Meliaceae. Tanaman yang di Indonesia dikenal sebagai mahoni ini mempunyai banyak nama sesuai dengan daerah atau negaranya. Di Bangli disebut sebagai mahagni. Di Belanda dikenal sebagai mahok. Orang Perancis menyebutnya acajou atau acajou pays, sementara tetangga kita (Malaysia) menamai tanaman ini cheriamagany. Lain lagi dengan orang Spanyol yang mengenalnya sebagai caoba/caoba de Santo/domingo. Di Indonesia sendiri tumbuhan berkayu keras ini mempunyai nama lokal lainnya, yaitu mahagoni, maoni atau moni. Asal usul tanaman ini dari Hindia Barat dan Afrika.

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili:
Meliaceae
Genus:
Swietenia
Spesies: Swietenia mahagoni (L.) Jacq. (Hendromono, 2001)

Syarat Tumbuh Mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.)

Tanaman mahoni ini merupakan tanaman tropis dan banyak ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-tempat lain yang dekat dengan pantai. Tanaman ini dapat tumbuh dengan subur di pasir payau dekat dengan pantai. Tanaman ini menyukai tempat yang cukup sinar matahari langsung (tidak ternaungi). Tanaman ini termasuk jenis tanaman yang tahan banting, maksudnya... tahan hidup di tanah gersang. Walaupun tidak disirami selama berbulan-bulan, mahoni masih mampu untuk bertahan hidup. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan biji, bisa juga dengan cangkok atau okulasi. Untuk tanaman mahoni yang akan digunakan sebagai tanaman obat, maka tidak boleh diberi pupuk kimia (anorganik) maupun pestisida (Nair, 2000).

Biologi Mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.)

Tanaman mahoni merupakan tanaman tahunan, dengan tinggi rata-rata 5 - 25 m (bahkan ada yang mencapai lebih dari 30 m), berakar tunggang dengan batang bulat, percabangan banyak, dan kayunya bergetah. Daunnya berupa daun majemuk, menyirip genap, helaian daun berbentuk bulat telur, ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun rata, tulang menyirip dengan panjang daun 3 - 15 cm. Daun yang masih muda berwarna merah dan setelah tua jreng..jreng.. bukan sulap bukan sihir, berubah menjadi hijau. Bunga tanaman mahoni adalah bunga majemuk, tersusun dalam karangan yang keluar dari ketiak daun. Ibu tangkai bunga silindris, berwarna coklat muda. Kelopak bunganya lepas satu sama lain dengan bentuk menyerupai sendok, berwarna hijau. Mahkota bunga silindris, berwarna kuning kecoklatan. Benang sari melekat pada mahkota. Kepala sari berwarna putih/kuning kecoklatan. Tanaman mahoni ini baru akan berbunga setelah usia 7 atau 8 tahun. Setelah berbunga, tahap selanjutnya adalah berbuah. Buah mahoni merupakan buah kotak dengan bentuk bulat telur berlekuk lima. Ketika buah masih imut berwarna hijau, dan setelah besar berwarna coklat. Di dalam buah terdapat biji berbentuk pipih dengan ujung agak tebal dan warnanya coklat kehitaman. Buah yang sudah renta alias tua sekali kulit buahnya akan pecah dengan sendirinya dan biji-biji pipih itu akan bebas berterbangan kemana angin meniup.

Hama pucuk dan daun dari jenis Swietenia mahagoni dan Swietenia macrophylla dari ordo Lepidoptera. Intensitas serangan pada daun mahoni kecil sangat besar. Ulatnya berwarna-warni, coklat sampai ungu dan hitam pada instar terakhir menjadi biru kehijauan, panjang ulat 2 – 3 cm, lebar kupu-kupu (bentangan sayap) 2,5 cm. Selain itu, tambahnya, ditemukan pula serangan hama penggerek pucuk mahoni (Hypsiphila robusta) pada 1998 yang mengakibatkan kerusakan 40% tanaman mahoni berumur dua hingga lima tahun.

Hama yang sama juga ditemukan menyerang hutan tanaman mahoni di Thailand dengan intensitas mencapai 22%. Sengon yang kini banyak ditanam di hutan rakyat mendapat serangan hama penggerek batang (boktor) dan penyakit karat puru (rust fungi) dengan tingkat kerusakan tanaman masing-masing mencapai 17% dan di Jatim di atas 50%. Hama yang sama juga ditemui di Malaysia.

Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:

1. Hama menjadi kebal (resisten)

2. Peledakan hama baru (resurjensi)

3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen

4. Terbunuhnya musuh alami

5. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia

6. Kecelakaan bagi pengguna

Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman. Memang ada kelebihan dan kekurangannya. Kira-kira ini kelebihan dan kekurangan pestisida nabati.

Kelebihan:

1. Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari

2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian

3. Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan

4. Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif (Yunasfi, 2007).

ANALISIS

Hama yang sangat terkenal di dunia yang menyerang tanaman mahoni adalah Hysiphilla robusta dan H. grandela. Di indi hanya dijumpai h.robusta. hama ini menggerek opucuk pohon hingga memnyebabkan banyaknya percabgangan, dengan demikian dapat menyebabkan penuitrunan produksi batang bebas cabang sampai 40%. Batang bebas cabang yang masih dapat dipanen tanpa afdanya tindakan pengendalian hama masih lebih 6 m. hal inimasih dianggap menmgunutngkan secara eknomi.

Pengendalian hama terpadu juga harus mempertimbangkan biaya yang ada, jangan sampai biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pendapatan yang akan diterima. Kondisi lahan dan pengelolaan tegakan yang baik akan meminimalisir dampak kerusakan hama dan penyakit. Pada banyak kasus dijumpai bahwa lahan dengan tingkat drainase dan aerasi baik serta kondisi pH 5,5 – 7 merupakan lahan ”yang tidak nyaman” bagi tempat tinggal hama dan penyakit tanaman. Di sisi lain kondisi lahan yang dikelola dengan tidak memernuhi persyaratan tersebut akan membuat hama dan penyakit merasa cozy.

Tindakan silvikultur diarahkan untuk mengendalikan populasi hama dan penyakit atau mengelola lingkungan sehingga meminimalkan dampak serangan hama dan penyakit. Efektifitas tindakan silvikultur juga tergantung pada karateristik hama dan penyakit yang menyerang. Cara silvikultur, dilakukan dengan menyediakan lingkungan tempat tumbuh tanaman hutan sehingga dapat diperoleh tanaman sehat dengan produktivitas tinggi. Aplikasi silvikultur untuk penanganan penyakit layu bakteri adalah dengan memperbaiki drainase lahan dan pengaturan jenis tanaman tumpangsari pada tanaman pokok jati/rimba. Kedua langkah tersebut perlu dilakukan agar dapat diperoleh zona perakaran jati yang sarang, tidak jenuh air, sebuah persyaratan yang dibutuhkan bagi budidaya jati yang sehat. Perbaikan drainase lahan dilakukan dengan pembuatan parit-parit drainase khususnya di daerah-daerah dengan topografi datar. Jenis tumpangsari jati – padi cenderung menciptakan lingkungan tempat tumbuh yang buruk bagi tanaman pokok jati.

Pembasmian hama dan penyakit secara fisik dapat dilakukan melalui:

1. Pemangkasan lokal ; bagian tanaman yang terserang dipotong atau dipangkas, hasil pangkasan kemudian dikumpulkan di suatu tempat yang terbuka dan aman, lalu dilakukan pembakaran.

2. Dicabut ; jika tanaman yang diserang dalam ukuran kecil (umur <>

3. Ditebang ; jika intensitas serangan tinggi (hampir semua bagian tanaman diserang/>70 % bagian tanaman diserang) atau sudah sangat parah dan tanaman berumur lebih dari 5 tahun, maka dilakukan tebangan D2 penyakit. Prosedur penebangan mengikuti prosedur tebangan yang sudah ada.

4. Dalam kegiatan pemangkasan dan penebangan harus memperhatikan aspek keselamatan kerja dengan mengacu pada prosedur kerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang sudah ada.

Pembasmian hama dan penyakit secara mekanik dapat dilakukan melalui:

1. Pengambilan menggunakan tangan. Dapat dilakukan pada jenis hama ulat dan belalang, dengan intensitas serangan hama dalam skala kecil.

2. Penangkapan bersama-sama oleh banyak orang (gropyokan-Jawa) pada hama belalang.

KESIMPULAN

Biologi Hama Penggerek pucuk (Hypsipyla robusta (shoot borer))

Merupakan famili Lepidoptera; Pyralida. Pada tingkat larva menyerang tegakan pada tingkat sapling terutama pada umur 3 – 6 tahun dengan tinggi antara 2 – 8 m, pada pohon dengan umur tua jarang dijumpai serangan ini. Dengan daur hidup 1 – 2 bulan, berbagai tingkatan larva dapat sekaligus melakukan penyerangan berulang kali.

Gejala Serangan Penggerek pucuk (Hypsipyla robusta (shoot borer))

Gejala yang nampak adalah pucuk tiba-tiba menjadi layu, mengering dan lama-lama mati. Jika dipotong bagian batang pucuk yang mati akan dijumpai terdapat larva kumbang (seperti ulat) berada di dalamnya.

Pengendalian Penggerek pucuk (Hypsipyla robusta (shoot borer))

Sampai saat ini belum ditemukan metode yang efektif guna mengatasinya. Pencegahan yang diajurkan antara lain penanaman multikultur (campur) antara mahoni dan akasia mangium (Matsumoto et al, 1997) dan pencampuran dengan Azadirachta indica (mimbo). (Suharti, 1995).

Hama yang sangat terkenal di dunia yang menyeranhg tanaman mahoni adalah Hysiphilla robusta dan H. grandela. Di indi hanya dijumpai h.robusta. hama ini menggerek opucuk pohon hingga memnyebabkan banyaknya p[ercabgangan, dengan demikian dapat menyebabkan penuitrunan produksi batang bebas cabang sampai 40%. Batang bebas cabang yang masih dapat dipanen tanpa afdanya tindakan pengendalian hama masih lebih 6 m. hal inimasih dianggap menmgunutngkan secara eknomi.

Pengendalian hama dan penyakit pada hutan tanaman yang menerapkan sistem monokultur harus dikelola dengan baik. Pemilihan teknik pengendalian yang tepat sesuai dengan jenis hama dan penyakit yang menyerang akan menentukan keberhasilan dan efectivitas pengendalian, dan untuk mengetahui jenis hama dan penyakit yang menyerang perlu dilakukan identifikasi gejala dan atau tanda serta kondisi lingkungan yang mendukung.

Pemilihan teknik pengendalian harus mempertimbangkan aspek lingkungan, social dan ekonomi. Sehingga penerapan pengendalian hama penyakit terpadu adalah lebih baik, dan penggunaan pestisida kimia harus diminimalkan. Dan jika dengan terpaksa harus menggunakan pestisida kimia maka aspek keamanan dan keselamatan harus diterapkan serta tidak menggunakan jenis pestisida kimia yang dilarang digunakan di dalam kawasan hutan yang bersertifikasi FSC.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous.2009.http://wahyudiisnan.blogspot.com/2008/07/klasifikasi-hama- hutan-menurut-bagian.html. [19 Mei 2009].

Hendromono dkk. 2001. Mindi Melia azerdarach L. Balitbang Kehutanan Departemen Kehutanan. Jakarta.

Nair, KSS. 2001. Pest Outbreaks In Tropical Forest Plantation. CIFOR. Bogor

Nair, KSS. 2000. Insect Pests And Diseases In Indonesia Forest. CIFOR. Bogor

Priyanto, Hari. 1999. Survey Of Entofauna with Emphasis On Pest In Teak (Tectona grandis L.f) In Central Java And East Java, Indonesia. Thesis. Gottingen, Germany

Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. 2007. Prosiding Hasil Penelitian dan Pengembangan. Puslitbang SDH Perhutani. Cepu.

Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. 2008. Seri Informasi Teknik Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Hutan (Jati, Pinus, Kayu Putih, Sengon). Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. Cepu.

Veronique de tillese et al, Tanpa Tahun. Damaging Poplar Insects, Internationally Important Insects. International Poplar Comissión. Belgia.

Yunasfi 2007. Permasalahan hama, penyakit dan gulma dalam pembangunan hti dan usaha pengendaliannya. USU Press. Medan.


Tidak ada komentar: